Menghimpun Kajian Islam sesuai Al-Qur'an dan Sunnah

Suami Merantau Lama

SUAMI MERANTAU LAMA


❓ PERTANYAAN:

Berapa lama seorang suami boleh meninggalkan keluarganya karena berkerja di luar negeri? Apakah dengan tetap memberikan nafkah belanja, itu sudah cukup untuk menunaikan kewajibannya?


💡 JAWABAN:

📚 MAKSIMAL 4 - 6 BULAN

Khalifah 'Umar bin al-Khatthab –Radhiyallâhu 'anhu- pernah mendengar syair seorang istri yang ditinggal suaminya karena berjihad,

« تَطَاوَلَ هَذَا اللَّيْلُ وَاسْوَدَّ جَانِبُهْ ... وَطَالَ عَلَيَّ أَنْ لَا خَلِيلَ أُلَاعِبُهْ....فَوَاللَّهِ لَوْلَا خَشْيَةُ اللَّهِ وَحْدَهْ ... لَحُرِّكَ مِنْ هَذَا السَّرِيرِ جَوَانِبُهْ »

《Semakin panjang malam ini, dan telah kelam ujungnya… Terasa panjang bagiku malam tanpa kekasih yang kucandai… Demi Allah, kalau bukan karena rasa takut kepada Allah semata, sungguh ujung-ujung dipan ini akan bergoyang.》

Lalu 'Umar segera bertanya ke putrinya Hafsah –Radhiyallâhu 'anhâ-,

«  يَا بُنَيَّةُ ، كَمْ تَصْبِرُ الْمَرْأَةُ عَنْ زَوْجِهَا ؟ »

《 Wahai putriku, berapa lama istri bisa bisa (menunggu) suaminya?》

Hafsah menjawab,

«  أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ أَوْ خَمْسَةَ أَشْهُرٍ أَوْ سِتَّةَ أَشْهُرٍ»[المغني 8/195]

《 4 bulan, atau 5 bulan, atau 6 bulan.》

Lalu 'Umar menjadikan waktu maksimal seseorang berpisah dengan istrinya selama 6 bulan; 1 bulan pergi, 4 bulan berjihad, 1 bulan pulang. [HR. Sa'îd bin Manshûr (2287), hasan].

                             ☆☆☆

6 BULAN, BERLAKU JIKA?

1⃣ Tidak ada uzur bagi suami untuk pulang.

2⃣ Istri sudah minta pulang.

🍀 Imam  al-Buhûti –Rahimahullâhu- berkata,

« وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لِلْمُسَافِرِعُذْرٌ مَانِعٌ مِنْ الرُّجُوعِ وَغَابَ أَكْثَرَ مِنْ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَطَلَبَتْ قُدُومَهُ لَزِمَهُ ذَلِكَ  » [كشف القناع 17/405]

《Jika suami safar tidak memiliki uzur yang menghalanginya untuk pulang, sementara ia telah merantau lebih dari 6 bulan, lalu si istri meminta kepulangannya, maka mesti bagi suami untuk pulang.》

                              ☆☆☆

📚 LAMA, TAPI ISTRI RIDHA?

Tidak masalah, karena ia sendiri yang merelakan haknya, selagi nafkah belanjanya dicukupkan.

🍀 Syekh  Ibnu 'Utsaimîn –Rahimahullâhu- pernah ditanya tentang masa merantau 3 tahun, lalu beliau menjawab,

« وإذا غاب عنها لطلب العيش برضاها وكانت في مكان آمن لا يخشى عليها شيئاً فإن ذلك لا بأس ... ثلاث سنوات أو أقل أو أكثر  » [فتاوى نور على الدرب 59]

《Jika suami meninggalkannya untuk mencari nafkah dengan ridha istri, sementara istri berada di tempat yang aman, dimana suami tidak khawatir terhadap istrinya dari apapun, maka itu tidak mengapa…3 tahun, kurang atau lebih.》

                           ☆☆☆

📚 DALILNYA

🍀 Ibunda  Saudah binti Zam'ah pernah menghadiahkan hak harinya kepada Ibunda  'Aisyah –Radhiyallâhu 'anhumâ-,

«  يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ جَعَلْتُ يَوْمِى مِنْكَ لِعَائِشَةَ »

《 Wahai Rasulullah, aku telah jadikan hariku denganmu untuk 'Aisyah》[HR. Muslim (1463)].

Artinya beliau punya hak untuk digauli, tapi beliau mundur dari haknya dan ridha dengan hal itu.

                            ☆☆☆

💡 KESIMPULAN:

✅ Waktu maksimal seseorang berpisah dengan istrinya selama 4 - 6 bulan.

✅ Masa ini berlaku jika istri sudah minta pulang, dan tidak ada uzur yang menghalangi suami untuk segera pulang.

✅ Boleh bagi suami tidak pulang lebih dari 6 bulan jika istri ridha akan hal itu, selagi nafkah belanjanya dicukupi.

                              ☆☆☆

Wallâhu A'lam.

Ahad, 16 Safar 1439 H
Share:

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Total Pageviews

Copyright © KAJIAN DAN DOKUMENTASI ISLAM | Powered by Google

Design by Theme Pacific | Blogger Theme by google.com | Distributed By Google Templates