CAMPUR ADUK MAZHAB
❓ PERTANYAAN:
Wajibkah bagi seseorang mengikuti mazhab fikih tertentu? Dan apa hukumnya campur aduk mazhab atau Talfiq pada ibadah tertentu seperti shalat?
💡 JAWABAN:
📚 TIDAK WAJIB
🍀 Imam an-Nawawi –Rahimahullâhu-berkata,
« وَالَّذِي يَقْتَضِيهِ الدَّلِيلُ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ، بَلْ يَسْتَفْتِي مَنْ شَاءَ، أَوْ مَنِ اتَّفَقَ، لَكِنْ مِنْ غَيْرِ تَلَقُّطٍ لِلرُّخَصِ. » [الروضة 11/117]
《Yang dituntut oleh dalil adalah bahwasanya tidak mesti bagi seseorang bermazhab dengan mazhab tertentu. Akan tetapi boleh baginya meminta fatwa kepada siapa yang ia inginkan, atau ia temui. Akan tetapi tidak dengan niat mencari-cari keringanan.》
🍀 Imam Ibnul Qayyim –Rahimahullâhu-menukil Ijma',
« وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ وَلَا عَلَى الْمُفْتِي أَنْ يَتَقَيَّدَ بِأَحَدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ » [إعلام الموقعين 4/202]
《Tidak wajib atasnya, tidak juga bagi seorang mufti terikat dengan salah satu ulama (mazhab) yang empat, menurut kesepatan umat.》
☆☆☆
📚 CAMPUR ADUK MAZHAB = TALFIQ?
Jawabannya:
✅ YA, jika terdapat di satu masalah saja.
Seperti: Batal atau tidaknya wudhu dengan menyentuh lawan jenis. Sederhananya: meyakini dua mazhab berbeda sekaligus dalam satu masalah tertentu.
❌ TIDAK, jika terjadi di masalah berbeda.
Contoh: Memilih mazhab Syafi'i di masalah di atas, lalu memilih mazhab lain tidak batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan, maka ini bukan Talfiq.
« أَمَّا الأْخْذُ بِأَقْوَال الأْئِمَّةِ فِي مَسَائِل مُتَعَدِّدَةٍ فَلَيْسَ تَلْفِيقًا وَإِنَّمَا هُوَ تَنَقُّلٌ بَيْنَ الْمَذَاهِبِ أَوْ تَخَيُّرٌ مِنْهَا » [الموسوعة الكويتية 13/294]
《Adapun mengambil pendapat para ulama dalam masalah berbeda, maka ini bukan Talfiq, tapi berpindah dari mazhab ke mazhab atau memilih diantaranya.》
☆☆☆
📚 IKUTI YANG LEBIH BENAR!
🍀 Imam asy-Syafi'i –Rahimahullâhu-berkata,
« كُلُّ مَا قُلْتُ، وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلافُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ، فَحَدِيثُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَى، وَلا تُقَلِّدُونِي » [آداب الشافعي ص 51]
《Setiap yang kukatakan, dan ada shahih dari Nabi –Shalallâhu 'alaihi wa sallam- yang berbeda dengan perkataanku, maka hadits Nabi –Shalallâhu 'alaihi wa sallam- lebih utama, dan jangan kalian mengikutiku!》
Silahkan download bukunya di sini (Arab):👇
http://www.feqhup.com/uploads/13475170191.pdf
🍀 Imam Ibnu Taimiyah –Rahimahullâhu- berkata,
« إذَا تَبَيَّنَ لَهُ مَا يُوجِبُ رُجْحَانَ قَوْلٍ عَلَى قَوْلٍ إمَّا بِالْأَدِلَّةِ الْمُفَصَّلَةِ إنْ كَانَ يَعْرِفُهَا وَيَفْهَمُهَا وَإِمَّا بِأَنْ يَرَى أَحَدَ رَجُلَيْنِ أَعْلَمَ بِتِلْكَ الْمَسْأَلَةِ مِنْ الْآخَرِ وَهُوَ أَتْقَى لِلَّهِ فِيمَا يَقُولُهُ فَيَرْجِعُ عَنْ قَوْلٍ إلَى قَوْلٍ لِمِثْلِ هَذَا فَهَذَا يَجُوزُ بَلْ يَجِبُ » [مجموع الفتاوى 20/221]
《Jika jelas bagi seseorang (si A) alasan yang menguatkan satu pendapat dari pendapat yang lain, boleh jadi karena dalil yang lebih rinci jika ia mengetahui atau memahaminya, atau karena ia melihat salah satunya lebih alim di masalah itu dari yang lain dan lebih bertakwa kepada Allah pada ucapannya, lalu si A beralih dari pendapat ke pendapat lain, maka ini boleh, bahkan wajib.》
🍀 Imam adz-Dzahabi –Rahimahullâhu-berkata,
« ...فَلاَ يُقَلِّدُ فِيْهَا إِمَامَهُ، بَلْ يَعْمَلُ بِمَا تَبَرْهَنَ، وَيُقِلِّدُ الإِمَامَ الآخَرَ بِالبُرْهَانِ » [السير 8/93]
《…maka janganlah ia mengikuti imamnya pada masalah itu, akan tetapi ia beramal dengan yang berdalil, dan ia ikuti imam yang lain dengan dalil.》
☆☆☆
📚 JANGAN CARI-CARI!
Imam Sulaimân a-Taimi (w 177 H) –Rahimahullâhu- berkata,
« إِنْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ »
《Jika engkau mengambil keringanan setiap ulama, akan berkumpul padamu semua keburukan.》
🍀 Imam Ibnu 'Abdil Barr (w 463 H) –Rahimahullâhu- menanggapi,
« هَذَا إِجْمَاعٌ لَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ » [جامع بيان العلم 2/927]
《Ini adalah Ijma' (kesepakatan), yang tidak kuketahui ada perbedaan padanya, Alhamdulillah.》
☆☆☆
📚 DI MASA BELAJAR?
Bagi penuntut ilmu, dianjurkan di awal-awal untuk fokus ke mempelajari satu buku di mazhab tertentu
🍀 Imam Adz-Dzahabi –Rahimahullâhu-berkata,
« شَأْنُ الطَّالِبِ أَنْ يَدْرُسَ أَوَّلاً مُصَنَّفاً فِي الفِقْهِ، فَإِذَا حَفِظَهُ، بَحَثَهُ، وَطَالَعَ الشُّرُوحَ، فَإِنْ كَانَ ذَكِيّاً، فَقِيْهَ النَّفْسِ، وَرَأَى حُجَجَ الأَئِمَّةِ فَلْيُرَاقِبِ اللهَ، وَلْيَحْتَطْ لِدِيْنِهِ » [السير 8/90]
《Sebagai penuntut ilmu, ia pelajari dulu buku tertentu dalam fikih. Jika ia sudah menghapalnya, ia mulai membahasnya dan menelaah syarahnya. Jika ia cerdas dan berpahaman dalam dan (mampu) menelaah dalil-dalil para imam, maka hendaklah ia mengawasi Allah dan memilih yang lebih hati-hati untuk agamanya.》
🍀 Syekh Ibnu 'Utsaimin –Rahimahullâhu- berkata,
« ولا شك أن الإنسان ينبغي له أن يركز على مذهب معين يحفظه ويحفظ أصوله وقواعده، لكن لا يعني ذلك أن يلتزم التزامًا تامّاً بما قاله الإمام في هذا المذهب » [مجموع الفتاوى 26/176]
《Tidak dikeragui, bahwa sepatutnya seseorang fokus ka mazhab tertentu, ia hapal, dan ia hapal dasar-dasar (mazhab) dan undang-undangnya. Tapi itu bukan berarti ia mesti mengikuti selalu apa yang dikatakan imam di mazhab tersebut.》
Download di sini buku tentang taklid dan ijtihad (Arab):👇
https://ia802707.us.archive.org/16/items/tvmg6/tvmg6.pdf
☆☆☆
💡 KESIMPULAN:
✅ Tidak wajib bagi seseorang mengikuti mazhab tertentu dalam beribadah. Yang wajib adalah beramal dengan yang lebih benar.
✅ Memilih mazhab lain di masalah berbeda karena dinilai lebih kuat, ini bukan Talfiq.
✅ Alasan menguatkan satu pendapat adalah ketika dalilnya lebih kuat atau lebih rinci, atau ustadznya terlihat lebih alim dan lebih berhati-hati.
✅ Dilarang mencari-cari keringanan-keringanan setiap ulama.
✅ Bagi penuntut ilmu, dianjurkan di awal-awal untuk fokus mempelajari satu buku di mazhab tertentu.
☆☆☆
Wallahu A'lam.
Selasa, 27 Muharam 1439








