Menghimpun Kajian Islam sesuai Al-Qur'an dan Sunnah

Adab Wanita Membaca Al-Qur'an

PERTANYAAN :

Bolehkah bagi seorang wanita untuk membaca Alquran sewaktu MTQ atau pembukaan acara resmi atau mendendangkan Asmaul Husna ? Bagaimana juga hukumnya membaca Alquran kepada guru laki-laki, dalam rangka belajar? Jazakumullah khairan

💡 JAWABAN :

Pada asalnya, wanita dalam islam disyariatkan menutup dirinya, baik tubuhnya atau suaranya, kecuali pada hal-hal yang dibutuhkan, maka boleh  baginya keluar atau menjaharkan suaranya. Oleh karena tidak kita dapati dalam sejarah islam wanita yang menjadi muaddzin atau qariah terkenal, padahal banyak diantara mereka yang suaranya lebih bagus dari kaum laki-laki.

Begitu juga, mereka tidak boleh memperbaiki bacaan imam jika salah, cukup dengan bertepuk saja, padahal ada diantara mereka yang hapal lebih banyak dari kaum laki-laki.

Lalu, apakah suara wanita aurat ?

Imam Nawawi –rahimahullahu- menjawab:

《وصوتها ليس بعورة على الأصح لكن يحرم الإصغاء إليه عند خوف الفتنة وإذا قرع بابها فينبغي أن لا تجيب بصوت رخيم بل تغلظ صوتها》

《Suara wanita bukanlah aurat menurut pendapat yang lebih benar, akan tetapi haram menyimak suaranya ketika takut fitnah. Dan jika ada (laki-laki) yang mengetuk pintu rumahnya, hendaklah ia tidak menjawabnya dengan suara lembut, tapi ia meng"kasar"kan suaranya.》 [Lihat: Raudhatut Thalibin ]

Caranya, seperti yang dijelaskan oleh Imam Khatib Syabaini –rahimahullahu-:

《تغلظ صوتها بظهر كفها على الفم》

《Ia kasarkan suaranya dengan meletakkan punggung telapak tanganya di mulut.》 [Lihat: Mughnil Muhtaj 3/129].

👉 Tersebut dalam Fatwa Ulama Saudi:

《ليس صوت المرأة عورة بإطلاق، فإن النساء كن يشتكين إلى النبي صلى الله عليه وسلم ويسألنه عن شئون الإسلام، ويفعلن ذلك مع الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم وولاة الأمور بعدهم، ويسلمن على الأجانب ويردون السلام، ولم ينكر ذلك عليهن أحد من أئمة الإسلام، ولكن لا يجوز لها أن تتكسر في الكلام ولا تخضع في القول...》

《Suara wanita bukanlah aurat secara mutlak, karena sesungguhnya para wanita sering mengadu kepada Nabi –Shallallahu 'alaihi wa sallam- dan menanyainya tentang perkara-perkara islam. Mereka juga berbuat demikian dengan Khulafa` Rasyidin –Radhiyaalhu 'anhum- dan dengan ulil amri setelah mereka. Wanita juga memberi dan menjawab salam kepada laki-laki non mahram. Dan tidak ada satupun ulama islam yang mengingkarinya. Akan tetapi tidak boleh baginya berbicara mendayu-dayu atau berlembut-lembut...》 [Fatwa Lajnah Daimah no (4522)].

                           ☆☆☆

❓Bolehkah bagi seorang wanita Qariah untuk membaca Alquran sewaktu MTQ atau pembukaan acara resmi?

👉Imam Ibnu Qudamah –rahimahullahu-, ketika berbicara tentang wanita yang menjadi imam bagi sesamanya:

《وتجهر في صلاة الجهر وإن كان ثم رجال ألا تجهر إلا أن يكونوا من محارمها فلا بأس》

《Dan wanita itu menjaharkan (bacaannya) pada sholat jahar. Jika ada di sana para lelaki, maka ia tidak menjaharkannya, kecuali kalau mereka adalah mahramnya, maka ini tidak mengapa.》 [Lihat: Al Mughni 2/36].

Bagiamana dalam mazhab Syafi'i ?

Imam Nawawi berkata:

《قال أصحابنا والمرأة لا تجهر بالقراءة في موضع فيه رجال أجانب فإن كانت خالية أو عندها نساء أو رجال محارم جهرت》

《Berkata Ulama kami: Dan wanita tidak menjaharkan bacaannya di tempat yang ada laki-laki disana. Jika ia sendiri, atau disampingnya ada wanita, atau laki-laki mahramnya, maka ia (boleh) menjaharkan.》 [Lihat: Raudhatut Thalibin 1/248].

Dari sini jelas bahwa hal seperti ini TIDAK diperbolehkan dalam syariat, karena pastinya Sang Qari-ah akan mengeraskan dan memperindah suaranya dengan ragam irama yang ada.

Bukankah pada sholat yang DIANJURKAN oleh syariat menjaharhan, tetap di sirkan ketika ada lelaki non mahram, apalagi MTQ yang sama sekai tidak ada anjurannya secara syariat ??

                              ☆☆☆

❓Bagaimana juga hukumnya membaca Al-Quran kepada guru laki-laki, dalam rangka belajar?

👉 Ulama membolehkan selagi dijaga adab-adabnya. Diantaranya:
  • Tidak berduaan,
  • dilakukan sekedar kebutuhan,
  • tidak meliuk-liukkan suara,
  • konsisten pada tujuan mengajar, dan
  • bukan menikmati suara.
Hal ini untuk menepis adanya "fitnah" syahwat. Oleh karenanya, dianjurkan dalam proses belajar-mengajar pada Guru atau Murid yang sudah TUA.

Wallahu A'lam
 
Share:

Wasiat untuk ahli waris

WASIAT UNTUK AHLI WARIS ?

❓ PERTANYAAN:

Bolehkah seorang anak menerima wasiat tanah dari ayahnya, dengan alasan anak ini bisa menggunakannya untuk membangun pesantren atau sarana agama yang lain?

💡 JAWABAN:

📚 TIDAK BOLEH !

🍀 Nabi –Shallallâhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ »

Sesungghunya Allah telah memberi ke setiap yang berhak haknya. Maka tidak (boleh) wasiat bagi ahli waris. [HR. Abu Daud (2780) Tirmidzi (2120), hasan shahih.]

                             ☆☆☆

📚 ULAMA SEPAKAT

🍀 Imam Ibnu  Katsîr –Rahimahullâhu- berkata,

« إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ لَا تَجُوزُ وَصِيَّةٌ لِوَارِثٍ »[تفسير القرطبي 2/263]

《Kaum muslimin sepakat tidak boleh wasiat untuk ahli waris.》

🍀 Imam Ibnu  Rusyd –Rahimahullâhu- berkata,

« اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْوَصِيَّةَ لَا تَجُوزُ لِوَارِثٍ » [بداية المجتهد 4/119]

《Mereka (ulama) sepakat bahwa tidak boleh wasiat untuk ahli waris.》

                             ☆☆☆

📚 KALAU YANG LAIN SETUJU?

Kebanyakan ulama menilai sah dan boleh.

🍀 Imam Ibnu  Rusyd –Rahimahullâhu- berkata,

« وَاخْتَلَفُوا - كَمَا قُلْنَا - إِذَا أَجَازَتْهَا الْوَرَثَةُ، فَقَالَ الْجُمْهُورُ: تَجُوزُ » [بداية المجتهد 4/119]

Mereka (ulama) berbeda pendapat –seperti yang sudah kita sampaikan-, jika disetujui oleh ahli waris yang lain. Jumhur ulama berkata: Boleh.

🍀 Imam Ibnul  Mundzîr –Rahimahullâhu- berkata,

« وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنْ لَا وَصِيَّة لِوَرِاثٍ،  إِلَّا أَنْ يُجِيزَ ذلكَ » [الإجماع ص 77]

《Ulama sepakat bahwa boleh wasiat bagi ahli waris,  kecuali jika diizinkan (oleh ahli waris yang lain).》

Dalilnya hadits:

« لَا تَجُوزُ الْوَصِيَّةُ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ الْوَرَثَة »

《 Tidak (boleh) wasiat untuk ahli waris, kecuali jika dikendaki oleh ahli waris yang lain.》[HR. Dâruquthni (4295)].

Hadits di atas dinilai  hasan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di  "Bulûghul Marâm" (962), dan kebanyakan ulama hadits menilainya  lemah.

                          ☆☆☆

📚 SEBAGIAN TAK SETUJU ?

Yang tak setuju, boleh ambil haknya.

🍀 Imam Mâlik bin Anas –Rahimahullâhu- berkata,

« وَإِنْ أَجَازَ بَعْضُ الْوَرَثَةِ فِيمَا تَلْزَمُ الْإِجَازَةُ فيه ولم يُجِزْ بَعْضُهُمْ جَازَ في حِصَّةِ من أَجَازَ ما أَجَازَ. »[الموطأ (2250)]

《Jika sebagian ahli waris setuju dan sebagian enggan, halal baginya mengambil hak mereka yang setuju. Dan mereka yang enggan bisa mengambil hak mereka dari (harta wasiat) itu.》

🍀 Senada dengan ini, uraian Imam asy-Syâfi'i –Rahimahullâhu-,

« ... جَازَ في حِصَّةِ من أَجَازَ ما أَجَازَ. » [الأم 4/110]

《Boleh diambil jatah orang yang membolehkan apa yang mereka bolehkan.》

                                ☆☆☆

📚 FATWA

1⃣ Lajnah Daimah

« الوصية لا تجوز بأكثر من الثلث، ولا تصح لوارث، إلا أن يشاء الورثة المرشدون بنصيبهم. »[الفتوى (2984)]

《Wasiat tidak boleh lebih dari 1/3, dan tidak sah untuk ahli waris kecuali jika ahli waris lain yang berakal rela memberikan haknya.》

2⃣ Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Pasal 195 ayat 3:

《Wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.》


                               ☆☆☆

💡 KESIMPULAN:

✅ Ulama sepakat tidak boleh wasiat untuk ahli waris.

✅ Kecuali jika ahli waris yang lain setuju, maka hukumnya sah menurutkebanyakan ulama.

✅ Ahli waris yang tidak setuju, boleh mengambil haknya dari wasiat tersebut.

                               ☆☆☆

Wallâhu A'lam.
Share:

Popular Posts

Total Pageviews

Copyright © KAJIAN DAN DOKUMENTASI ISLAM | Powered by Google

Design by Theme Pacific | Blogger Theme by google.com | Distributed By Google Templates