Menghimpun Kajian Islam sesuai Al-Qur'an dan Sunnah

Memilih Imam Shalat

BER-IMAM KE YANG SUKA DANGDUTAN

❓ PERTANYAAN :

Di kantor, saya sering menghindari sholat berjamaah karena saya merasa imamnya tidak pandai baca Al-Qur`an, dan tidak ada kecendrungan menegakkan syariat Islam. Orangnya suka dangdutan dan kalau jadi imam -menurut saya- terlalu cepat. Mohon penjelasannya ?

💡 JAWABAN :

IMAM TAK FASIH

Jika yang dimaksud adalah mengganti huruf atau baris yang akan merubah makna, maka jangan diikuti, karena salahnya fatal, dan ini membatalkan shalat, khususnya pada surat Al-Fâtihah.

🍀 Imam asy-Syâfi'i –Rahimahullâhu- berkata,

« وَإِذَا أَمَّ الْأُمِّيُّ أَوْ مَنْ لَا يُحْسِنُ أُمَّ الْقُرْآنِ وَإِنْ أَحْسَنَ غَيْرَهَا من الْقُرْآنِ ولم يُحْسِنْ أُمَّ الْقُرْآنِ لم يَجْزِ الَّذِي يُحْسِنُ أُمَّ الْقُرْآنِ صَلَاتُهُ مَعَهُ » [الأم 1/167]

(Jika yang ummi (tak bisa baca) menjadi imam, atau tidak bisa membetulkan bacaan Al-Fatihah meskipun bisa membetulkan bacaan selain Al-Fatihah, maka tidak sah shalat makmum yang betul bacaan Al-Fatihahnya.)

                             ☆☆☆

📚 STANDAR TAK SAH?

🍀 Imam an-Nawawi –Rahimahullâhu- menjelaskan,

« فَلَوْ أَسْقَطَ حَرْفًا مِنْهَا أَوْ خَفَّفَ مُشَدَّدًا أَوْ أَبْدَلَ حَرْفًا بِحَرْفٍ مَعَ صِحَّةِ لِسَانِهِ لَمْ تَصِحَّ قِرَاءَتُهُ » [المجموع 3/392]

(Jika ia mencopot satu huruf dari Al-Fatihah atau tidak mentasydidkan yang bertasydid, atau menukar huruf dengan huruf lain –padahal lidahnya sehat-, maka tidak sah bacaannya.)


📚 SALAH BARIS, TAPI TAK MERUBAH MAKNA?

🍀 Imam an-Nawawi –Rahimahullâhu- menjawab,

« إِنْ كَانَ لَحْنًا لَا يُغَيِّرُ الْمَعْنَى كَرَفْعِ الْهَاءِ مِنَ الْحَمْدُ لِلَّهِ، صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَصَلَاةُ مَنِ اقْتَدَى بِهِ. وَإِنْ كَانَ يُغَيِّرُ كَضَمِّ تَاءِ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ أَوْ كَسْرِهَا، تُبْطِلُهُ » [الروضة 1/350]

(Jika Lahn-nya tidak merubah makna, seperti mendhammahkan Hâ pada "Al-Hamdu Lillahu", maka sah shalatnya dan shalat makmumnya. Tapi jika merubah makna, seperti mendhammahkan Tâ pada "An'amtu 'alaihim" atau mengkasrahkannya, maka itu membatalkannya.)

Baca lebih lanjut di sini:

https://islamqa.info/ar/70270
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=113626

              
📚 IMAMNYA FASIK

Imam yang melakukan hal-hal kefasikan seperti dangdutan, merokok, riba, pendusta atau dosa-dosa lainnya, maka tetap sah diikuti selagi bacaannya fasih.

Tapi, jika bisa mencari imam lain, maka ini tentu lebih baik.

🍀 Imam asy-Syâfi'i –Rahimahullâhu- berkata,

« أَكْرَهُ إمَامَةَ الْفَاسِقِ وَالْمُظْهِرِ الْبِدَعَ وَمَنْ صلى خَلْفَ وَاحِدٍ منهم أَجْزَأَتْهُ صَلَاتُهُ ولم تَكُنْ عليه إعَادَةٌ » [الأم 1/167]

(Aku tidak menyukai imamnya orang fasik dan yang menampakkan bid'ahnya. Dan siapa yang bermakmum ke salah seroang mereka, shalatnya sah dan aku tidak menyuruhnya untuk mengulang shalat.)

DALIL
Tersebut dalam HR. Bukhari (1662) bahwa shahâbi 'Abdullah bin 'Umar dan sahabat lainnya –Radhiyallâhu 'anhum- berimam ke Hajjâj bin Yusuf ketika di Arafah, padahal Hajjaj telah banyak menumpahkan darah kaum muslimin.

Begitu juga di HR. Muslim (49), dimana shahâbi Abu Sa'id al-Khudri tetap ketika berimam ke Marwan bin al-Hakam, padahal Marwan membuat bid'ah dengan mendahulukan khutbah 'Ied dari shalatnya.

Baca lebih lanjut di sini:
https://islamqa.info/ar/13465
http://fatwa.islamweb.net/
                               ☆☆☆

🌸 KESIMPULAN:
✅ Jangan berimam ke orang yang bacaannya salah fatal, khususnya di surat Al-Fâtihah.
✅ Maksud salah fatal adalah mencopot atau menukar huruf, atau mentasydidkan yang bertasydid.
✅ Makruh berimam ke orang yang fasik, tapi tetap sah diikuti selagi bacaannya fasih.

Wallâhu A'lam
Share:

Minum Zamzam Berdiri

MINUM ZAMZAM BERDIRI, SUNNAH ?

❓ PERTANYAAN:

Salah  seorang pembimbing umrah mengumumkan ke jamaahnya bahwa sunnah minum zam-zam adalah sambil berdiri, karena begitu Nabi mencontohkan. Lalu bagaimana dengan hadits yang melarang minum berdiri ?
💡 JAWABAN:

📚 HADITS SHAHIH

🍀Shahâbi; Ibnu 'Abbâs –Radhiyallâhu 'anhumâ- berkata,

« سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ »

(Aku pernah memberi Nabi –Shallallâhu 'alaihi wa sallam- air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.) [HR. Bukhari (1637) Muslim (2027)]

                                ☆☆☆

📚 KENAPA BERDIRI?

🍀 Imam an-Nawawi –Rahimahullâhu- menjawab,

« وَأَمَّا شُرْبُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا فَبَيَانٌ لِلجَوَازِ  » [شرح النووي 13/195]

《Adapun minumnya Nabi –Shallallâhu 'alaihi wa sallam- sambal berdiri maka untuk menjelaskan kebolehannya.》

🍀Al-Hâfizh Ibnu Hajar –Rahimahullâhu- mendukungnya,

« وَهَذَا أَحْسَنُ الْمَسَالِكِ وَأَسْلَمُهَا وَأَبْعَدُهَا مِنَ الِاعْتِرَاضِ » [فتح الباري 10/84]

《Dan ini adalah alasan terbaik dan lebih selamat serta lebih jauh dari sanggahan.》

                               ☆☆☆

 DALIL PENDUKUNG

Dan hal ini dikuatkan oleh praktek shahabi; Ali bin Abi Thâlib –Radhiyallâhu 'anhu- ketika orang-orang mengingkarinya minum berdiri,

« مَا تَنْظُرُونَ؟ إِنْ أَشْرَبْ قَائِمًا،  فَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْرَبُ قَائِمًا »

《Apa yang kalian perhatikan? Jika aku minum berdiri maka sungguh aku telah melihat Nabi–Shallallâhu 'alaihi wa sallam- minum berdiri.》[HR. Ahmad (795), hasan.]

                                ☆☆☆

📚 KARENA RAMAI ATAU UZUR ?

Ada kemungkinan. Dan sebagian ulama menyatakannya.

Diantaranya:

Imam Ibnul 'Arabi (w 543 H) –Rahimahullâhu-

« فَعَلَهُ فِي زَمْزَم وَهُوَ مَوْضِعُ زِحَامٍ لَا يُمْكِنُ فِيهِ الجُلُوسُ  » [المسالِك 7/359]

《Nabi melakukannya di waktu ramai yang tidak memungkinkan duduk.》

Imam Ibnul Qayyim –Rahimahullâhu-

« وَالصَّحِيحُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ النَّهْيُ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا وَجَوَازُهُ لِعُذْرٍ يَمْنَعُ مِنَ الْقُعُودِ » [زاد المعاد 1/144]

《Yang benar dalam masalah ini adalah dilarang minum sambil berdiri, dan  boleh ketika adanya uzur yang menghalangi duduk.》

Syekh al-'Azhîm Âbadi –Rahimahullâhu-

« وَكَذَلِكَ شُرْبه مِنْ زَمْزَم أَيْضًا لَعَلَّهُ لَمْ يَتَمَكَّن مِنْ الْقُعُودِ لِضِيقِ الْمَوْضِعِ أَوْ الزِّحَامِ وَغَيْرِهَا » [عون المعبود 10/131]

《Begitu juga ketika Nabi meminum zamzam, boleh jadi tidak memungkinkan baginya untuk duduk karena sempitnya tempat atau ramai atau selainnya.》


KESIMPULAN:

✅ Tidak didapati kalam ulama yang menyatakan bahwa sunnahnya minum zamzam sambal berdiri.

✅ Alasan minum berdiri adalah untuk menjelaskan kebolehannya atau karena ada uzur atau ramai.


Wallâhu A'lam.
Share:

Jual Beli Emas dengan Kredit

JUAL BELI EMAS DENGAN CARA KREDIT

❓ PERTANYAAN:

Bolehkah kita membeli perhiasan emas seperti kalung, cincin dengan cara kredit ?




💡 JAWABAN:

Kebanyakan ulama melarangnya, karena emas pada asalnya harus dijualbelikan secara tunai.

Diantara dalilnya hadits:

« نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالْوَرِقِ دَيْنًا »

Nabi -Shallallâhu 'alaihi wa sallam- melarang jual beli emas dengan perak secara kredit.[HR. Bukhari (2180)].

🍀 Al-Hafizh Ibnu Hajar –Rahimahullâhu- berkata,

« وَيَدْخُلُ فِي الذَّهَبِ جَمِيعُ أَصْنَافِهِ مِنْ مَضْرُوبٍ وَمَنْقُوشٍ وَجَيِّدٍ وَرَدِيءٍ وَصَحِيحٍ وَمُكَسَّرٍ وَحُلِيٍّ وَتِبْرٍ وَخَالِصٍ وَمَغْشُوشٍ. وَنَقَلَ النَّوَوِيُّ تَبَعًا لِغَيْرِهِ فِي ذَلِكَ الْإِجْمَاعَ  » [فتح الباري 3/407]

《 Masuk ke (makna) emas seluruh jenisnya: yang dibuat, yang diukir, elok atau buruk, utuh atau pecah, perhiasan atau belum dibentuk, murni atau tiruan (campuran). Imam Nawawi telah menukil Ijma' pada hal itu, mengikut ulama sebelumnya.》

🍀 Ulama Lajnah Daimah –Rahimahumullâhu- pernah ditanya,

« هل يجوز شراء الذهب بالنقود التي تضرب في كل بلد بالتقسيط كباقي السلع العادية...؟ »

《Bolehkah membeli emas dengan uang yang dibuat di setiap negara dengan cara kredit seperti barang-barang lainnya?》

« لا يجوز بيع الذهب بالنقود، وإن كانت ليست من جنسه إلا بشرط التقابض في المجلس ؛ لقول النبي - صلى الله عليه وسلم - لما ذكر الأجناس التي يدخلها الربا ثم قال: «فإذا اختلفت هذه الأجناس فبيعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد » [فتوى (20790)]

《Tidak boleh jual beli emas dengan uang –meskipun bukan sejenis- kecuali dengan cara tunai di tempat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallâhu 'alaihi wa sallam- ketika menyebutkan jenis barang yang termasuk riba, lalu bersabda, " Jika berbeda jenis barangnya, maka juallah semau kalian, selagi tunai!"》

                            ☆☆☆

📚 YANG MENILAI BOLEH

Diantaranya Imam Ibnu Taimiyah dan muridnya Imam Ibnul Qayyim –Rahimahumallâhu-.

Alasannya karena perhiasan tidak lagi dianggap alat tukar seperti dinar.

🍀Imam Ibnul Qayyim  berkata,

« الْحِلْيَة الْمُبَاحَة صَارَتْ بِالصَّنْعَةِ الْمُبَاحَةِ مِنْ جِنْسِ الثِّيَابِ وَالسِّلَعِ، لَا مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ » [إعلام الموقعين 3/407]

《Perhiasan yang boleh dipakai yang dibentuk dengan cara yang boleh, berubah statusnya sama seperti pakaian dan barang, bukan lagi mata uang.》

Pendapat ini yang dipilih oleh Ulama Darul Iftâ Mesir  -Hafizhahumullahu-.

Lihat di sini:

http://www.dar-alifta.org/Ar/ViewFatwa.aspx?ID=12001&LangID=1&MuftiType=

                              ☆☆☆

Baca lebih lanjut di:

http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=6028#_edn22

http://pengusahamuslim.com/5083-boleh-jual-beli-perhiasan-emas-secara-kredit.html

                             ☆☆☆

💡 KESIMPULAN:

Kebanyakan ulama melarang jual beli emas dengan cara kredit. Dan pendapat ini insyaallah lebih hati-hati.

Wallâhu A'lam.
Share:

Adab Wanita Membaca Al-Qur'an

PERTANYAAN :

Bolehkah bagi seorang wanita untuk membaca Alquran sewaktu MTQ atau pembukaan acara resmi atau mendendangkan Asmaul Husna ? Bagaimana juga hukumnya membaca Alquran kepada guru laki-laki, dalam rangka belajar? Jazakumullah khairan

💡 JAWABAN :

Pada asalnya, wanita dalam islam disyariatkan menutup dirinya, baik tubuhnya atau suaranya, kecuali pada hal-hal yang dibutuhkan, maka boleh  baginya keluar atau menjaharkan suaranya. Oleh karena tidak kita dapati dalam sejarah islam wanita yang menjadi muaddzin atau qariah terkenal, padahal banyak diantara mereka yang suaranya lebih bagus dari kaum laki-laki.

Begitu juga, mereka tidak boleh memperbaiki bacaan imam jika salah, cukup dengan bertepuk saja, padahal ada diantara mereka yang hapal lebih banyak dari kaum laki-laki.

Lalu, apakah suara wanita aurat ?

Imam Nawawi –rahimahullahu- menjawab:

《وصوتها ليس بعورة على الأصح لكن يحرم الإصغاء إليه عند خوف الفتنة وإذا قرع بابها فينبغي أن لا تجيب بصوت رخيم بل تغلظ صوتها》

《Suara wanita bukanlah aurat menurut pendapat yang lebih benar, akan tetapi haram menyimak suaranya ketika takut fitnah. Dan jika ada (laki-laki) yang mengetuk pintu rumahnya, hendaklah ia tidak menjawabnya dengan suara lembut, tapi ia meng"kasar"kan suaranya.》 [Lihat: Raudhatut Thalibin ]

Caranya, seperti yang dijelaskan oleh Imam Khatib Syabaini –rahimahullahu-:

《تغلظ صوتها بظهر كفها على الفم》

《Ia kasarkan suaranya dengan meletakkan punggung telapak tanganya di mulut.》 [Lihat: Mughnil Muhtaj 3/129].

👉 Tersebut dalam Fatwa Ulama Saudi:

《ليس صوت المرأة عورة بإطلاق، فإن النساء كن يشتكين إلى النبي صلى الله عليه وسلم ويسألنه عن شئون الإسلام، ويفعلن ذلك مع الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم وولاة الأمور بعدهم، ويسلمن على الأجانب ويردون السلام، ولم ينكر ذلك عليهن أحد من أئمة الإسلام، ولكن لا يجوز لها أن تتكسر في الكلام ولا تخضع في القول...》

《Suara wanita bukanlah aurat secara mutlak, karena sesungguhnya para wanita sering mengadu kepada Nabi –Shallallahu 'alaihi wa sallam- dan menanyainya tentang perkara-perkara islam. Mereka juga berbuat demikian dengan Khulafa` Rasyidin –Radhiyaalhu 'anhum- dan dengan ulil amri setelah mereka. Wanita juga memberi dan menjawab salam kepada laki-laki non mahram. Dan tidak ada satupun ulama islam yang mengingkarinya. Akan tetapi tidak boleh baginya berbicara mendayu-dayu atau berlembut-lembut...》 [Fatwa Lajnah Daimah no (4522)].

                           ☆☆☆

❓Bolehkah bagi seorang wanita Qariah untuk membaca Alquran sewaktu MTQ atau pembukaan acara resmi?

👉Imam Ibnu Qudamah –rahimahullahu-, ketika berbicara tentang wanita yang menjadi imam bagi sesamanya:

《وتجهر في صلاة الجهر وإن كان ثم رجال ألا تجهر إلا أن يكونوا من محارمها فلا بأس》

《Dan wanita itu menjaharkan (bacaannya) pada sholat jahar. Jika ada di sana para lelaki, maka ia tidak menjaharkannya, kecuali kalau mereka adalah mahramnya, maka ini tidak mengapa.》 [Lihat: Al Mughni 2/36].

Bagiamana dalam mazhab Syafi'i ?

Imam Nawawi berkata:

《قال أصحابنا والمرأة لا تجهر بالقراءة في موضع فيه رجال أجانب فإن كانت خالية أو عندها نساء أو رجال محارم جهرت》

《Berkata Ulama kami: Dan wanita tidak menjaharkan bacaannya di tempat yang ada laki-laki disana. Jika ia sendiri, atau disampingnya ada wanita, atau laki-laki mahramnya, maka ia (boleh) menjaharkan.》 [Lihat: Raudhatut Thalibin 1/248].

Dari sini jelas bahwa hal seperti ini TIDAK diperbolehkan dalam syariat, karena pastinya Sang Qari-ah akan mengeraskan dan memperindah suaranya dengan ragam irama yang ada.

Bukankah pada sholat yang DIANJURKAN oleh syariat menjaharhan, tetap di sirkan ketika ada lelaki non mahram, apalagi MTQ yang sama sekai tidak ada anjurannya secara syariat ??

                              ☆☆☆

❓Bagaimana juga hukumnya membaca Al-Quran kepada guru laki-laki, dalam rangka belajar?

👉 Ulama membolehkan selagi dijaga adab-adabnya. Diantaranya:
  • Tidak berduaan,
  • dilakukan sekedar kebutuhan,
  • tidak meliuk-liukkan suara,
  • konsisten pada tujuan mengajar, dan
  • bukan menikmati suara.
Hal ini untuk menepis adanya "fitnah" syahwat. Oleh karenanya, dianjurkan dalam proses belajar-mengajar pada Guru atau Murid yang sudah TUA.

Wallahu A'lam
 
Share:

Wasiat untuk ahli waris

WASIAT UNTUK AHLI WARIS ?

❓ PERTANYAAN:

Bolehkah seorang anak menerima wasiat tanah dari ayahnya, dengan alasan anak ini bisa menggunakannya untuk membangun pesantren atau sarana agama yang lain?

💡 JAWABAN:

📚 TIDAK BOLEH !

🍀 Nabi –Shallallâhu 'alaihi wa sallam- bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ »

Sesungghunya Allah telah memberi ke setiap yang berhak haknya. Maka tidak (boleh) wasiat bagi ahli waris. [HR. Abu Daud (2780) Tirmidzi (2120), hasan shahih.]

                             ☆☆☆

📚 ULAMA SEPAKAT

🍀 Imam Ibnu  Katsîr –Rahimahullâhu- berkata,

« إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ أَنَّهُ لَا تَجُوزُ وَصِيَّةٌ لِوَارِثٍ »[تفسير القرطبي 2/263]

《Kaum muslimin sepakat tidak boleh wasiat untuk ahli waris.》

🍀 Imam Ibnu  Rusyd –Rahimahullâhu- berkata,

« اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْوَصِيَّةَ لَا تَجُوزُ لِوَارِثٍ » [بداية المجتهد 4/119]

《Mereka (ulama) sepakat bahwa tidak boleh wasiat untuk ahli waris.》

                             ☆☆☆

📚 KALAU YANG LAIN SETUJU?

Kebanyakan ulama menilai sah dan boleh.

🍀 Imam Ibnu  Rusyd –Rahimahullâhu- berkata,

« وَاخْتَلَفُوا - كَمَا قُلْنَا - إِذَا أَجَازَتْهَا الْوَرَثَةُ، فَقَالَ الْجُمْهُورُ: تَجُوزُ » [بداية المجتهد 4/119]

Mereka (ulama) berbeda pendapat –seperti yang sudah kita sampaikan-, jika disetujui oleh ahli waris yang lain. Jumhur ulama berkata: Boleh.

🍀 Imam Ibnul  Mundzîr –Rahimahullâhu- berkata,

« وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنْ لَا وَصِيَّة لِوَرِاثٍ،  إِلَّا أَنْ يُجِيزَ ذلكَ » [الإجماع ص 77]

《Ulama sepakat bahwa boleh wasiat bagi ahli waris,  kecuali jika diizinkan (oleh ahli waris yang lain).》

Dalilnya hadits:

« لَا تَجُوزُ الْوَصِيَّةُ لِوَارِثٍ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ الْوَرَثَة »

《 Tidak (boleh) wasiat untuk ahli waris, kecuali jika dikendaki oleh ahli waris yang lain.》[HR. Dâruquthni (4295)].

Hadits di atas dinilai  hasan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di  "Bulûghul Marâm" (962), dan kebanyakan ulama hadits menilainya  lemah.

                          ☆☆☆

📚 SEBAGIAN TAK SETUJU ?

Yang tak setuju, boleh ambil haknya.

🍀 Imam Mâlik bin Anas –Rahimahullâhu- berkata,

« وَإِنْ أَجَازَ بَعْضُ الْوَرَثَةِ فِيمَا تَلْزَمُ الْإِجَازَةُ فيه ولم يُجِزْ بَعْضُهُمْ جَازَ في حِصَّةِ من أَجَازَ ما أَجَازَ. »[الموطأ (2250)]

《Jika sebagian ahli waris setuju dan sebagian enggan, halal baginya mengambil hak mereka yang setuju. Dan mereka yang enggan bisa mengambil hak mereka dari (harta wasiat) itu.》

🍀 Senada dengan ini, uraian Imam asy-Syâfi'i –Rahimahullâhu-,

« ... جَازَ في حِصَّةِ من أَجَازَ ما أَجَازَ. » [الأم 4/110]

《Boleh diambil jatah orang yang membolehkan apa yang mereka bolehkan.》

                                ☆☆☆

📚 FATWA

1⃣ Lajnah Daimah

« الوصية لا تجوز بأكثر من الثلث، ولا تصح لوارث، إلا أن يشاء الورثة المرشدون بنصيبهم. »[الفتوى (2984)]

《Wasiat tidak boleh lebih dari 1/3, dan tidak sah untuk ahli waris kecuali jika ahli waris lain yang berakal rela memberikan haknya.》

2⃣ Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Pasal 195 ayat 3:

《Wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.》


                               ☆☆☆

💡 KESIMPULAN:

✅ Ulama sepakat tidak boleh wasiat untuk ahli waris.

✅ Kecuali jika ahli waris yang lain setuju, maka hukumnya sah menurutkebanyakan ulama.

✅ Ahli waris yang tidak setuju, boleh mengambil haknya dari wasiat tersebut.

                               ☆☆☆

Wallâhu A'lam.
Share:

Zakat Beras

ZAKAT BERAS, BID'AH ?

❓ PERTANYAAN:

Betulkah bahwa membayar zakat fitrah dengan beras itu bid'ah, karena katanya tidak ada di zaman Nabi?
💡 JAWABAN:

Ini tidak tepat, karena ungkapan "Tidak ada di zaman Nabi" tidak serta merta menjadi penentu Bid'ah, apalagi kalau menyangkut masalah dunia.

Ada 2 yang perlu dicatat di sini untuk mendeteksi Bid'ah:

1. Ada SEBAB PENDUKUNG

2. Tidak ada PENGHALANG

Jika 2 hal ini ada, lalu Nabi tidak memlakukannya, tidak juga Sahabat dan Tabi'in, maka baru disebut Bid'ah.

📚  CONTOH SEDERHANA

Azan untuk shalat 'Id.

MUQADDIMAH

👉 Ada sebab pendukungnya, yaitu mengumpulkan orang

👉 TIDAK ada yang menghalangi untuk dilakukan, tidak perang, tidak pula tekanan

Lalu ternyata tidak dilakukan👇

HASIL: BID'AH

                              ☆☆☆

📚  Bagaimana dengan BERAS ?

MUQADDIMAH

👉 Ada sebab pendukung? ADA

👉 Ada penghalang? ADA, karena tidak ada ketika itu.

*HASIL:*Bukan Bid'ah karena ada penghalang.

                             ☆☆☆

📚 KARENA ITU MAKANAN POKOKNYA

☘ Shahâbi; Abû Sa'îd al-Khudri berkata,

« كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ. وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ والأَقِطُ والتَّمْرِ »

《 Dulu kami di zaman Rasulullah -Shallallâhu 'alaihi wa sallam- mengeluarkan satu Shâ' di hari Idul Fitri. Abu Sa'îd berkata: Dulu, makanan pokok kami adalah gandum Syair, Zabîb (anggur kering), keju dan kurma.》 [HR. Bukhari (1510)].

☘ Imam Ibnul Mulaqqin  (w 804 H) –Rahimahullâhu- berkata,

« وَصَوَابُهُ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ غَالِبَ قُوتِهِمْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ » [التوضيح ١٠-٦٤٦]

《 Yang benarnya bahwa itulah makanan pokok mereka yang dominan di zaman itu.》

                              ☆☆☆

📚 MAKANAN POKOK SETIAP DAERAH

☘ Imam Asy-Syâfi'i –Rahimahullahu- berkata,

« وَأَيِّ قُوتٍ كَانَ أَغْلَبَ عَلَى رَجُلٍ أَدَّى مِنْهُ زَكَاةَ الفِطْرِ. » [الأم ٢-٨٨]

《 Makanan pokok apapun yang lebih dominan bagi seseorang, maka ia tunaikan darinya zakat fitrah.》

                            ☆☆☆

💡 KESIMPULAN:

Tidak benar bahwa berzakat dengan beras itu Bid'ah berdasarkan data-data diatas.

                             ☆☆☆

Wallâhu A'lam
Share:

Popular Posts

Total Pageviews

Copyright © KAJIAN DAN DOKUMENTASI ISLAM | Powered by Google

Design by Theme Pacific | Blogger Theme by google.com | Distributed By Google Templates